Groeneveldtberpendapat bahwa pada waktu yang sama kelompok orang Arab yang beragama Islam mendirikan perkampungan di pantai barat Sumatera. Perkampungan tersebut namanya Barus/Fansur. b. Pada waktu Sriwijaya mengembangkan kekuasaan sekitar abad ke- 7 dan 8, para pedagang Muslim telah ada yang singgah di kerajaan itu sehingga diduga beberapa SejarahSufisme di Dunia Islam: Kemunculan Tarekat Sufi (1) Sufism ( sufisme) merupakan istilah Barat untuk menyebut tasawuf. Tasawuf sebagai sebuah dimensi spiritual dalam Islam terkadang dipadankan dengan istilah mistisisme. Sejarah sufisme di dunia Islam diketahui sebagai disiplin yang mapan semenjak abad 9 Masehi atau 3 Hijriah. Kalaupada abad kelima hijriyah Imam Al-Ghazali telah mengembalikan citra ahli tasawuf di kalanagn umat islam, dengan mempertemukan ilamu zahir(ilmu syariat) dengan ilmu batin(ilmu tasawuf).dan berusaha memurnikannya deri unsur-unsur filsafat yang dinilainya membingungkan orang-orang islam, sehingga dapat dikatakan bahwa hanya ahli filsafat saja yang menjadi lawan polemik ulama syariat dan ulama tasawuf. Tetapi di abad keenam hijriyah ini, suasana kemelut antara ulama syariah dengan ulama cash. PENDAHULUAN Manusia sebagaimana disebutkan Ibnu Khaldun memiliki pancaindera, akal dan hati sanubari. Ketiga potensi ini harus bersih, sehat, berdaya guna dan dapat bekerja sama secara harmonis. Untuk menghasilkan kondisi seperti ini ada tiga bidang ilmu yang berperan penting. Pertama, fikih berperan dalam membersihkan dan menyehatkan pancaindera dan anggota tubuh. Istilah yang digunakan fikih untuk pembersihan dan penyehatan pancaindera dan anggota tubuh ini adalah thaharah barsuci. Kedua, filsafat beeperan dalam menggerakan, menyehatkan dan meluruskan akal pikiran. Karenanya filsafat banyak berurusan dengan dimensi metafisik dari manusia, dalam rangka menghasilkan konsep-konsep yang menjelaskakn inti tentang sesuatu. Ketiga, tasawuf berperan dalam membersihkan hati sanubari. Karenanya tasawuf banyak berurusan dengan dimensi esotorik batin dari manusia. 2. PEMBAHASAN Pengertian Tasawuf Para ulama tasawuf dalam penggunaan kata tasawuf berebeda pendapat tentang asal usul katanya.[1] Lafal tasawuf merupakan mashdar kata jadian bahasa Arab dari fiโ€™il kata kerjaุชุตูˆู ูŠุชุตูˆู ุชุตูˆูุง yang merupakan ูุนู„ ู…ุฒูŠุฏ ุจุญุฑููŠู† kata kerja tambahan dua huruf; yaitu โ€œTaโ€ dan โ€œTasydidโ€ yang sebenarnya berasal dari ูุนู„ ู…ุฌุฒุฏ ุซู„ุงุซูŠ kata kerja dari tiga huruf, yang berbunyi ูŠุตูˆู ุตุงู menjadi ุตูˆูุง mashdar; yang artinya mempunyai bulu yabg banyak. Perubahan dari kata ุตูˆูุง ูŠุตูˆู ุตูˆู menjadi kata ุซุตูˆู ูŠุซุตูˆู ุซุตูˆูุง yang diistilahkan dalam bahasa Arab ; yang artinya menjadi atau berpindah.[2] Jadi lafal ุงู„ุซุตูˆู at tasawufu yang artinya menjadi berbulu yang banyak; dengan arti sebenarnya adalah menjadi sufi, yang ciri khas pakaiannya selalu terbuat dari bulu domba wol.[3] Ada yang mengemukakan bahwa kata tasawuf berasal dari kata shafa yang berarti suci, bersih atau murni. Pandangan lain mengatakan bahwa kata tasawuf berasal dari kata shaff yaitu barisan. Demikian pula ada yang mengatakan bahwa tasawuf dari kata ash-shufu yang artinya buku atau wol kasar.[4] Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahlinya antara lain Asy-Syekh Muhammmad Amin Al-Kundy mengatakan โ€œTasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihknnya dari sifat-sifat yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju keridhaan Allah dan meninggalkan larangan-Nya menuju kepada perintah-Nyaโ€[5]. Imam Al-Ghazali mengemukakan pendapat Abu Bakar Al-Kataany yang mengatakan โ€œTasawuf adalah budi pekerti; barang siapa yang memberikan bekal budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal atas dirimu dalam tasawuf. Maka hamba yang jiwanya menerima perintah untuk beramal karena sesungguhnya mereka melakukan suluk dengan nur petunjuk islam. Dan Ahli Zuhud yang jiwanya menerima perintah untuk melakukan beberapa akhlaq terpuji, karena mereka telah melakukan suluk dengan nur petunjuk imannyaโ€.[6] As-Suhrawardy mengemukakan pendapat Maโ€™ruf Al-Karakhy yang mengatakan โ€œTasawuf adalah mencari hakikat dan meninggalkan sesuatu yang ada di tangan makhluk kesenangan duniawiโ€.[7] Dari berbagai pandangan ulama tasawuf tentang asal usul kata tasawuf dapat disimpulkan bahwa pengertian tasawuf adalah kesadaran murni yang mengarahkan jiwa secara benar kepada mal shalih dan kegiatan yang sungguh-sungguh, menjauhkan dri dari keduniaan dalam rangka pendekatan diri kepada Allah untuk mendapatkan perasaan berhubungan erat denganNya.[8] Sejarah Asal Mula Tasawuf Fase Pertama Abad 1-2 H/7-8 M Sebenarnya kehidupan sufi sudah terdapat pada diri Nabi Muhammad Saw. Dimana dalam sebuah kehidupan beliau sehari-hari terkesan amat sederhana dan menderita, disamping menghabiskan waktunya untuk beribadah dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.[9] Bahkan seperti diketahui, bahwa beliau diangkat sebagai Rasul Allah, beliau sering kali melakukan kegiatan sufi dengan melakukan uzlah di Gua Hira selama berbulan-bulan lamanya sampai beliau menerima wahyu pertama saat diangkat sebagai Rasul Allah. Setelah beliau resmi diangkat sebagai Nabi utusan Allah, keadaan dan cara hidup beliau masih ditandai oleh jiwa dan kerakyatan, meskipun beliau berada dalam lingkaran keadaan hidup dapat terpenuhi semua keinginan lantaran kekuasaannya sebagai Nabi yang menjadi kekasih Tuhannya.[10] Perkembangan Tasawuf pada Masa Sahabat Para sahabat juga mencontohi kehidupan Rasulullah yang serba sederhana, di mana hidupnya hanya semata-mata diabdikan kepada tuhanya. Beberapa sufi di abad pertama, dan berfungsi sebagai mahaguru bagi pendatang dari luar kota Madinah, yang tertarik kepada kehidupan sufi. Sahabat-sahabat yang dimaksud adalah Abu Bakar As-sidiq W. 13 H Umar bin Khattab W. 23 H Usman bin Affan W. 35 H Ali bin Abi Thalib W. 40 H Salman Al-Farisy Abu Zar Al-Ghifari Ammar bin Yasir Huzaidah bin Al-Yaman Niqdah bin Aswad Perkembangan Tasawuf pada Masa Tabiin Ulama-ulama sufi dari kalangan tabiin, adalah murid dari ulama-ulama sufi dari kalangan sahabat.[11] Ada beberapa tokoh-tokoh ulama sufi tabiin antar lain Al-Hasan Al-Bashri 22-110 H Rabiโ€™ah Al-Adawiyah W. 105 H Sufyan bin Said Ats-Tsaury 97-161 H Daun Ath-Thaiy W. 165 H Syaqieq Al-Bakhiy W. 194 H Pada abad pertama Hijriyah, Ulama-ulama tasawuf hanya berada di beberapa kota yang tidak jauh dari madinah. Tetapi di abad kedua Hijriyah, ulama-ulama sudah menyebar di wilayah kekuasaan islam. Ciri lain yang terdapat pada perkembangan tasawuf di abad pertama dan kedua Hijriyah adalah kemurniannya dibandingkan dengan tasawuf di abad-abad sesudanya. Fase kedua Abad ke 3-4 H/ 9-10 M Fase kedua ini diawali dengan masa peralihanโ€™ di mana para asketis sudah tidak lagi dikenal sebagai asketis tapi lebih dikenal sebagai sufi karena sudah sedikit ditandai perilaku tasawuf.[12] Perkembangan Tasawf pada Abad Ketiga Pada abad ini, terlihat perkembangan tasawuf yang pesat, ditandai dengan adanya segolongan ahli tasawuf yang mencoba memiliki inti ajaran tasawuf yang berkembang di masa itu.[13] Sehingga mereka membaginya menjadi tiga macam, yaitu Tasawuf yang berintikan ilmu jiwa Tasawuf yang berintikan ilmu akhlak Tasawuf yang berintikan metafisika[14] Sedangkan tokoh-tokoh sufi yang terkenal abad ini; antara lain Abu Sulaiman Ad-Darany W. 215 H Ahmad bin Al-Hawary Ad-Damasqiy W. 230 H Abul Faidh Dzun Nun bin Ibrahim Al-Mishriy W. 245 H Abu Yazid Al-Bushthamy W. 261 H/874 M Junaid Al-Baghdady W. 298 H Al-Hallaj lahir 244 H/858 M Di akhir abad ketiga hijriyah ini, mulai timbul perkembangan baru dalam sejarah tasawuf, yang ditandai dengan bermunculannya lembaga pendidikan dan pengajaran, yang di dalamnya terdapat kegiatan pengajaran tasawuf dan latihan-latihan rohaniyah. Perkembangan Tasawuf pada Abad Keempat Pada abad ini, ditandai dengan kemajuan ilmu tasawuf yang lebih pesat dibandingkan dengan kemajuan di abad ketiga hijriyah karena usaha maksimal ulama tasawuf untuk mengembangkan ajaran tasawuf masing-masing.[15] Sehingga kota Baghdad yamg hanya satu-satunya kota yang terkenal sebagai pusat kegiatan tasawuf yang paling besar sebelum masa itu, tersaing oleh kota-kota besar lainnya. Upaya untuk mengembangkan ajaran tasawuf di luar kota Baghdad, dipelopori oleh beberapa ulama yamg terkenal kealimannya, antara lain Musa Al-Anshary, mengajarkan ilmu tasawuf di Khurasan Persia atau Iran, dan wafat di sana tahun 320 H. Abu Hamid bin Muhammad Ar-Rubazy, mengajarkannya di salah satu kota di Mesir, dan wafat di sana tahun 322 H Abu Zaid Al-Adamy, mengajarkannya di semannjung Arabiyah, dan wafat di sana tahun 314 H Abu Ali Muhammad bin Abdil Wahab As-Saqafy, mengajarkannya di Nasaibur dan kota Syaraz, sehingga beliau wafat tahun 328 H Perkembangan tasawuf di berbagai negeri dan kota, tidak mengurangi perkembangan tasawuf di kota Baghdad.[16] Fase ketiga Abad 5 H/6 M Pada abad kelima ini aliran tasawuf kelompok kedua yang dikembangkan oleh Abu Yazid Al-Busthamy dan Husain bin Mansur Al-Hallaj pada abad ketiga dan keempat H mulai tenggelam dan mulai muncul kembali dalam bentuk lain. Pada abad inilah terlihat tanda-tanda semakin dekatnya corak tasawuf dengan ajaran tasawuf yang di amalkan pada abad pertama Hijriyah. Tetapi pada abad sesudahnya, kembali terlihat ada tanda-tanda yang menjurus kepada perbedaan pendapat ahli tasawuf dengan fuqaha beserta mutakallimin, karena corak tasawuf falsafi yang telah diamalkan pada abad ketiga dan keempat Hijriyah kembali muncul di kalangan umat Isalm.[17] Fase Keempat Abad 6 H Pada fase ini, tasawuf yang dikembangkan pada abad ketiga dan keempat dan pernah tenggelam pada abad kelima Hijriyah, muncul kembali dan lebih dikembangkan para sufi dan juga filosof. Tasawuf ini kemudian dikenal dengan tasawuf falsafi yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional. Berbeda dengan tasawuf sunni, tasawuf falsafi menggunakan terminologi folosofis dalam pengungkapannya.[18] Perkembangan tasawuf pada abad keenam Hijriyah banyak ulama tasawuf yang berpengaruh dalam perkembangan taasawuf abad ini antara lain Syihabuddin Abul Futu As-Suhrawardy W. 587 H/1191 M. Ia mulai belajar filsafat dan ushul fiqh pada Asy-Syekh Al-Imam Majdudin Al-Jily di Aleppo, bahkan sebagian besar ulama dari berbagai disiplin ilmu agama di negeri itu, telah dikunjunginya untuk menimba ilmu pengetahuan dari mereka.[19] Manfaat Tasawuf Tasawuf adalah suatu kehidupan rohani yang merupakan fitrah manusia dengan tujuan untuk mencapai hakikat yang tinggi, berada dekat atau sedekat mungkin dengan Allah dengan jalan mensucikan jiwanya, dengan melepaskan jiwanya dari kungkungan jasadnya yang menyadarkan hanya pada kehidupan kebendaan, di samping juga melepaskan jiwanya dari noda-noda sifat dan perbuatan yang tercela. Tasawuf bertujuan untuk memperoleh suatu hubungan khusus dari Tuhan. Hubungan yang dimaksud mempunyai makna yang penuh kesadaran, bahwa manusia sedang berada di hadirat Tuhan.[20] Semua sufi berpendapat bahwa untuk mencapai tujuan dekat atau berada di hadirat Allah, satu-satunya jalan hanyalah dengan โ€œkesucian jiwaโ€. Kehidupan yang kekal adalah kehidupan di akhirat nanti yang kebahagiaannya amat tergantung pada selamatnya rohani dari perbuatan dosa dan pelanggaran. Untuk mewujudkan rohani yang sehat termasuk salah satu tugas tasawuf yang utama. Kebahagiaan yang hakiki dalam kehidupan di dunia ini sebenarnya terletak pada adanya ketenangan batin yang dihasilkan dari kepercayaan dan ketundukan pada Tuhan. Pada saat seseorang usianya sudah lanjut yang ditandai dengan melemahnya fisik, kurang berfungsinya pencernaaan dan pancaindera, saat seperti ini manusia tidak ada jalan lain kecuali dengan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, tempat ia harus mempertanggungawabkan amalnya.[21] Dalam rangka mensucikan jiwa demi tercapainya kesempurnaan dan kebahagiaan hidup, maka di perlukan suatu riyadah latihan dari satu tahap ke tahap lain yang lebih tinggi. Jadi untuk mencapai kesempurnaan rohani tidaklah dapat dicapai secara sepontan dan sekaligus.[22] KESIMPULAN Sebenarnya kehidupan sufi sudah terdapat pada diri Nabi Muhammad Saw. Dimana dalam sebuah kehidupan beliau sehari-hari terkesan amat sederhana dan menderita, disamping menghabiskan waktunya untuk beribadah dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Para sahabat juga mencontohi kehidupan Rasulullah yang serba sederhana, di mana hidupnya hanya semata-mata diabdikan kepada tuhanya. Pada abad pertama Hijriyah, Ulama-ulama tasawuf hanya berada di beberapa kota yang tidak jauh dari madinah. Tetapi di abad kedua Hijriyah, ulama-ulama sudah menyebar di wilayah kekuasaan islam. tasawuf yang dikembangkan pada abad ketiga dan keempat dan pernah tenggelam pada abad kelima Hijriyah, muncul kembali dan lebih dikembangkan para sufi dan juga filosof. Tasawuf ini kemudian dikenal dengan tasawuf falsafi yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional. Berbeda dengan tasawuf sunni, tasawuf falsafi menggunakan terminologi folosofis dalam pengungkapannya. Tasawuf bertujuan untuk memperoleh suatu hubungan khusus dari Tuhan. Hubungan yang dimaksud mempunyai makna yang penuh kesadaran, bahwa manusia sedang berada di hadirat Tuhan. Semua sufi berpendapat bahwa untuk mencapai tujuan dekat atau berada di hadirat Allah, satu-satunya jalan hanyalah dengan โ€œkesucian jiwaโ€. Dalam rangka mensucikan jiwa demi tercapainya kesempurnaan dan kebahagiaan hidup, maka di perlukan suatu riyadah latihan dari satu tahap ke tahap lain yang lebih tinggi. Jadi untuk mencapai kesempurnaan rohani tidaklah dapat dicapai secara sepontan dan sekaligus. DAFTAR PUSTAKA Mustofa, A, Ahklak Tasawuf, Bandung CV Pustaka Setia, 2014. Cet. Ke 6. Nasution, dan Rayani, Akhlak Tasawuf Pengenalan, Pemahaman dan pengaplikasiannya, Jakarta PT RajaGrafindo Persada, 2013. Cet. Ke 1. Nata, Abuddin, Akhlak Taswuf, Jakarta PT RajaGrafindo Persada, 2012. Cet. Ke 2. Umar, Nasaruddin, Tasawuf Modern, Jakarta Repiblika Penerbit, 2014. Cet. Ke 1. Zuhri, Amat, Imu Tasawuf, Yogyakarta STAIN Press Pekalongan, 2010. Cet. Ke 4. [1] Ahmad Bangun Nasution & Rayani Hanum siregar, Akhlak Tasawuf Pengenalan, Pemahaman, dan pengaplikasiannya Jakarta PT Rajagrafindo Persada, 2013, hlm. 3 [2] A mustofa, Ahklak Tasawuf, cet . VI Bandung CV Pustaka Setia, 2014, hlm. 201 [3] Ibid, hlm. 202 [4] Ahmad Bangun Nasution, Ibid, hlm. 3 [5] A mustofa, Ibid, hlm 203 [6] Ibid, hlm. 204 [7] Ibid, hlm. 205 [8] Ahmad Bangun Nasution, Ibid, hlm. 3 [9] Ibid, hlm. 17 [10] Ibid, hlm. 17 [11] A mustofa, Ibid, hlm. 214 [12] Amat zuhri, Ilmu Tasawuf Yogyakarta STAINPRESS Pekalongan, 2010 hlm. 22 [13] Ahmad Bangun Nasution & Rayani Hanum siregar, Akhlak Tasawuf Pengenalan, Pemahaman, dan pengaplikasiannya Jakarta PT Rajagrafindo Persada, 2013, hlm. 22 [14] A mustofa, Ahklak Tasawuf, cet . VI Bandung CV Pustaka Setia, 2014, hlm. 220 [15] Ahmad Bangun Nasution & Rayani Hanum siregar, Akhlak Tasawuf Pengenalan, Pemahaman, dan pengaplikasiannya Jakarta PT Rajagrafindo Persada, 2013, hlm. 22 [16] A mustofa, Ahklak Tasawuf, cet . VI Bandung CV Pustaka Setia, 2014, hlm. 225 [17] Amat zuhri, Ilmu Tasawuf Yogyakarta STAINPRESS Pekalongan, 2010 hlm. 24 [18]Ibid, hlm. 26 [19] Ahmad Bangun Nasutin, Ibid, hlm. 23 [20] A mustofa, Ahklak Tasawuf, cet . VI Bandung CV Pustaka Setia, 2014, hlm. 206 [21] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta PT RajaGrafindo Persada, 2012, hlm. 191 [22]A mustofa, Ahklak Tasawuf, cet . VI Bandung CV Pustaka Setia, 2014, hlm. 207 Tasawuf adalah cabang ilmu dalam Islam yang menekankan aspek tazkiyatun nafs atau pensucian diri manusia. Tasawuf adalah metode pendidikan ruhani dan adabi yang dapat menjadikan seorang Muslim naik sampai pada derajat ihsan seperti penjelasan Rasulullah ShallaLlahu alaihi wa Sallama, โ€œIhsan adalah kamu beribadah, seakan-seakan kamu dapat melihat Allah. Jika kamu tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.โ€ HR. Ahmad, Bukhari, Muslim Kaitannya dengan hukum Islam, tasawuf merupakan salah satu komponen penting yang dapat memperkuat seseorang dalam melaksanakan ajaran Islam. Dengan meniti jalan tasawuf, seseorang mampu menjalankan hukum agamanya secara ikhlas liLlahi Taโ€™ala dan menghiasi diri dengan akhlak-akhlak yang mulia sehingga raga manusia terhindar dari melakukan perbuatan-perbuatan yang rendah secara moral manusia dan melanggar aturan-aturan Syariโ€™ah. Tasawuf mampu membawa seorang Muslim lebih menghayati ajaran agamanya secara mendalam sehingga ibadah dan interaksinya dengan alam semesta mampu membuahkan hikmah dalam akal fikirannya dan menambah kuat keimanan dalam hatinya. Dalam perjalanannya, tasawuf merupakan ajaran penting dalam Islam yang selalu relevan untuk diterapkan lintas ruang dan zaman. Berbagai praktik dan ajaran pembersihan diri yang diajarkan oleh para ulama Islam dalam kitab-kitab dan amaliah kesehariannya selalu berhasil dalam perannya membersihkan hati dari berbagai sifat buruk manusia. Bukti yang sangat konkret adalah berkembangnya tarekat-tarekat sufi yang diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat, serta pengajaran kitab-kitab tasawuf yang masih begitu diminati di pesantren dan madrasah bahkan menjadi bahan kajian yang mendalam dalam dunia akademik di perguruan tinggi. Dalam makalah ini akan dijelaskan secara singkat tentang perjalanan tasawuf yang diterangkan oleh para ulama Ahlussunnah wal Jamaโ€™ah dari zaman awal kemunculannya hingga era modern sekarang. Makalah ini meliputi pengertian tasawuf menurut istilah, kriteria tasawuf yang diterima dalam Islam, serta penjelasan singkat tentang beberapa ajaran dan praktik tasawuf yang dilakukan oleh para ulama dari masa awal Islam hingga sekarang. Pengertian Tasawuf Dari segi bahasa terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubung-hubungkan para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf, antara lain shuffah serambi masjid Nabawi di Madinah untuk para Shahabat yang ikut pindah dengan nabi dari Makkah ke Madinah, shaf barisan, shafa suci, sophos bahasa Yunani hikmat, dan shuff kain wol. Keseluruhan kata ini bisa-bisa saja dikaitkan dengan tasawuf. Kata shuffah serambi masjid Nabawi di Madinah untuk para Shahabat yang ikut pindah dengan Nabi dari Makkah ke Madinah misalnya menggambarkan keadaan orang yang rela mencurahkan jiwa dan raganya, harta benda dan lain sebagainya hanya untuk Allah. Mereka ini rela meninggalkan kampung halamannya, rumah, kekayaan dan harta benda lainnya di Makkah untuk hijrah bersama Rasulullah ShallaLlahu alaihi wa Sallama ke Madinah. Tanpa ada unsur iman dan kecintaan pada Allah, tak mungkin mereka melakukan hal yang demikian. Selanjutnya kata shaf barisan juga menggambarkan orang yang selalu berada di barisan depan dalam beribadah kepada Allah dan melakukan amal kebajikan. Demikian pula kata shafa suci menggambarkan orang yang selalu memelihara dirinya daari berbuat dosa dan maksiat, dan kata shuff kain wol menggambarkan orang yang hidup sederhana dan tidak mementingkan dunia. Dan kata sophos bahasa Yunani menggambarkan keadaan jiwa yang senantiasa cenderung kepada kebenaran. Dari segi linguistik kebahasaan ini, maka dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap hati sanubari yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap jiwa yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak yang mulia.[i] Sedangkan secara terminologis, istilah tasawuf pun diartikan secara variatif oleh para ahli tasawuf namun sama secara makna. Berikut adalah pengertian tasawuf menurut para ulama Imam Junaid al-Baghdadi w. 910 mendefinisikan tasawuf sebagai โ€œmengambil setiap sikap mulia dan meninggalkan setiap sifat rendahโ€. Imam Ghazali dalam Ihyaโ€™ Ulum al-Din menyatakan tasawuf adalah ilmu yang membahas cara-cara seseorang mendekatkan diri kepada Allah Taโ€™ala. Tasawuf adalah budi pekerti, barangsiapa memberikan budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal atas dirimu dalam bertasawuf. Mahmud Amin al-Nawawi mengutip pendapat Imam Junaid al-Baghdadi yang lain bahwa tasawuf adalah memelihara waktu. Seorang hamba tidak akan menekuni amalan tasawuf tanpa aturan, menganggap tidak tepat ibadah-Nya tanpa tertuju kepada Tuhannya, dan merasa tidak berhubungan dengan Tuhan tanpa menggunakan waktunya untuk beribadah kepada-Nya. Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi mengatakan bahwa tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari sifat-sifat yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju keridhaan Allah dan meninggalkan larangannya menuju kepada perintahnya. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa inti ajaran tasawuf adalah menekankan tentang pembersihan hati dari sifat-sifat tercela dan penghiasan jiwa dengan sifat-sifat terpuji, sebagai usaha mengarahkan hati, fikiran, dan raga seseorang untuk beribadah kepada Allah Taโ€™ala, menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Tasawuf adalah kendaraan untuk memperkuat pelaksanaan Syariโ€™ah secara ikhlas liLlahi Taโ€™ala. Kriteria Tasawuf yang Benar Tasawuf adalah sebuah lembaga pendidikan yang memprioritaskan pada pembersihan hati dari segala penyakit yang menghalangi manusia dengan Allah, dan penegakan berbagai penyimpangan psikis dan etika berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, dengan manusia lain, dan dengan alam semesta. Dalam tabiat jiwa manusia terkumpul berbagai macam penyakit, seperti rasa sombong, bangga diri, tertipu, egois, kikir, temperamental, riyaโ€™, senang bermaksiat, berlaku kotor, senang membalas dendam dan menyiksa, benci, iri, menipu, rakus, dan serakah. Allah Taโ€™ala berkisah tentang istri raja Aziz Zalikha ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูุจูŽุฑู‘ูุฆู ู†ูŽูู’ุณููŠ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽูู’ุณูŽ ู„ูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุงุฑูŽุฉูŒ ุจูุงู„ุณู‘ููˆุกู ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูŽุง ุฑูŽุญูู…ูŽ ุฑูŽุจู‘ููŠ ุฅูู†ู‘ูŽ ุฑูŽุจู‘ููŠ ุบูŽูููˆุฑูŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ โ€œDan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.โ€ QS. Yusuf 53 Karena itulah para ulama salaf berpikir tepat tentang keharusan mendidik jiwa dan membersihkannya dari berbagai penyakit agar bersesuaian dengan masyarakat dan berhasil dalam hubungan dengan Tuhannya. Tasawuf memiliki tiga pilar utama yang semuanya dianjurkan oleh Al-Quran. Pertama, pentingnya jiwa, perawatan dan pembersihannya dari penyakit. Allah Taโ€™ala berfirman ูˆูŽู†ูŽูู’ุณู ูˆูŽู…ูŽุง ุณูŽูˆู‘ูŽุงู‡ูŽุง 7 ููŽุฃูŽู„ู’ู‡ูŽู…ูŽู‡ูŽุง ููุฌููˆุฑูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุชูŽู‚ู’ูˆูŽุงู‡ูŽุง 8 ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽูู’ู„ูŽุญูŽ ู…ูŽู†ู’ ุฒูŽูƒู‘ูŽุงู‡ูŽุง 9 ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฎูŽุงุจูŽ ู…ูŽู†ู’ ุฏูŽุณู‘ูŽุงู‡ูŽุง 10 โ€œDan jiwa serta penyempurnaannya ciptaannya, 7 Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya. 8 Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 9 Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. 10โ€ QS. Al-Syams 7-10 Kedua, banyak berdzikir kepada Allah. Allah Taโ€™ala berfirman ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุงุฐู’ูƒูุฑููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฐููƒู’ุฑู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง โ€œHai orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.โ€ QS. Al-Ahzab 41 Rasulullah ShallaLlahu alaihi wa Sallama bersabda, โ€œJangan sampai lisanmu kering dari dzikir Allah.โ€ HR. Ahmad, al-Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hibban, Hakim Ketiga, tidak bergantung dan cinta dunia, serta cinta akhirat. Allah Taโ€™ala berfirman ูˆูŽู…ูŽุง ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุฅูู„ู‘ูŽุง ู„ูŽุนูุจูŒ ูˆูŽู„ูŽู‡ู’ูˆูŒ ูˆูŽู„ูŽู„ุฏู‘ูŽุงุฑู ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุชู‘ูŽู‚ููˆู†ูŽ ุฃูŽููŽู„ูŽุง ุชูŽุนู’ู‚ูู„ููˆู†ูŽ โ€œDan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?โ€ QS. Al-Anโ€™am 32 Karena merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan Syariah, tasawuf harus dipandu dan dikawal oleh aturan-aturan Syariah. Oleh karena itu, tasawuf hendaknya memenuhi kriteria berikut. Pertama, berpegang terhadap Al-Quran dan Sunnah karena tarekat sufi adalah metode keduanya. Setiap hal yang bertentangan dengannya maka bukan tarekat yang benar, bahkan menyimpang dan terlarang. Kedua, tidak termasuk tarekat berbagai ajaran yang terpisah dari ajaran Syariโ€™ah atau bahkan inti Syariโ€™ah.[ii] Perjalanan Tasawuf dari Masa ke Masa Setelah kita mengetahui secara ringkas bahwa tasawuf adalah sebuah istilah baru yang mewakili ajaran Syariah Islam tentang kiat-kiat membersihkan diri dari kotoran-kotoran hati yang menghalangi manusia menjalankan Syariah, dapat disimpulkan bahwa asal muasal tasawuf memang berasal dari Islam itu sendiri. Tasawuf yang dikembangkan oleh ulama Islam berasal dari ajaran Rasulullah ShallaLlahu alaihi wa Sallama. Hal ini dapat dilihat dari ucapan dan perilaku Rasulullah sendiri. Banyak sekali Hadits-hadits yang menganjurkan kepada umatnya agar bersifat zuhud dan mementingkan kehidupan akhirat daripada dunia. Diantaranya adalah doa Rasulullah ShallaLlahu alaihi wa Sallama, โ€œWahai Allah, hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku dalam keadaan miskin.โ€ HR. al-Tirmidzi, Ibn Majah, al-Hakim Pada suatu ketika Rasulullah ShallaLlahu alaihi wa Sallama datang ke rumah istrinya Aisyah binti Abu Bakr. Ternyata dirumahnya tidak ada makanan. Keadaan ini diterima beliau dengan sabar, lalu beliau menahan lapar dengan berpuasa. HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasai Rasulullah ShallaLlahu alaihi wa Sallama juga mengajarkan banyak sekali amalan-amalan dzikir yang menjadi bagian utama amaliah tasawuf. Rasulullah bersabda, โ€œSesungguhnya saya meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya setiap hari tujuh puluh kali.โ€ HR. al-Thabarani Ibn Khaldun menerangkan, bahwa ajaran tasawuf Rasulullah ShallaLlahu alahi wa Sallama ini lalu diteruskan oleh para Shahabat dan Tabiโ€™in dengan mengedepankan konsentrasi kehidupan dengan ibadah, berpaling dari hingar-bingar kehidupan dunia, sifat zuhud atau tidak bergantung dengan harta benda, dan menyendiri dari manusia khalwah. Amaliah semacam ini umum di kalangan para shahabat dan salaf. Hingga ketika manusia pada abad kedua dan seterusnya telah semakin terlena jauh oleh kehidupan dunia, para ahli ibadah mengkhususkan diri dengan nama shufiyyah atau mutashawwifah.[iii] Ketika dimulai era kodifikasi dan kategorisasi ilmu-ilmu Islam pada zaman kejayaan Khilafah Islam dan kegemilangan ilmu pengetahuan, para ulama sangat produktif dalam menulis kitab-kitab dalam berbagai disiplin ilmu baik tentang Islam maupun ilmu-ilmu sains. Pada masa itulah para ulama sufi tidak ketinggalan mengikuti tren penulisan berbagai karya ilmiah tentang ilmu tasawuf. Sebagian ulama sufi menulis kitab tentang sifat waraโ€™ atau menjaga harga diri dan muhasabah diri seperti yang dilakukan oleh al-Muhasibi dalam al-Riโ€™ayah. Sebagian lainnya menulis kitab tentang teknis pelaksanaan tarekat sebagai madrasah penggemblengan amalan tasawuf, daya rasa, dan tingkatan para peniti jalan sufi seperti yang dilakukan oleh al-Qusyairi dalam al-Risalah al-Qusyairiyyah yang terkenal itu, al-Sahrawardi dalam Awarif al-Maโ€™arif, dan sebagainya. Baru pada masa setelahnya, al-Ghazali menggabungkan keduanya dalam Ihya Ulum al-Din. Pada masa inilah tasawuf menjadi satu literatur ilmu khusus setelah sebelumnya hanya menjadi sebuah gerakan saja, dan peristilahan dalam tasawuf pun ditransformasikan secara turun-temurun dari guru kepada murid.[iv] Seperti diketahui, salik atau para peniti jalan tasawuf seringkali mengalami fenomena yang disebut kasyf atau mukasyafah, yaitu terbukanya hijab tabir ilmu-ilmu yang tidak dijangkau oleh indera atau pikiran rasional. Terjadinya kasyf ini adalah ketika ruh manusia telah begitu menikmati konsentrasi ibadah dan taqarrub kepada Allah Taโ€™ala, ruh akan menjadi kuat dan inderawi akan melemah. Semua ini terdorong oleh dzikir yang diajarkan dalam tasawuf, karena dzikir adalah makanan untuk jiwa. Dzikir mendorong kekuatan jiwa seseorang semakin kuat sehingga berpindah dari maqam ilmu ke maqam syahadah. Dari sinilah Allah Taโ€™ala lalu membuka tabir manusia sehingga mampu mengatahui dan melihat berbagai hal yang tidak diketahui secara inderawi manusia normal. Namun para pembesar sufi seringkali tidak memperhatikan ilmu mukasyafah tersebut dan tidak mempublikasikannya di depan khalayak ramai, bahkan menganggapnya sebagai ujian dan meminta pertolongan kepada Allah dari fitnahnya. Hal inilah yang dilakukan oleh para salaf dari kalangan Shahabat dan Tabiโ€™in dan diteruskan oleh para sufi yang mempelajari tarekat yang dikembangkan al-Qusyairi. Berbeda dengan tren sebagian kaum sufi belakangan yang ambisius melakukan amalan-amalan sufiah untuk mendapatkan ilmu kasyf kemudian memperlihatkannya di depan masyarakat. Demikian yang disebutkan dan dikritik oleh al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din.[v] Selain itu, permasalahan hulul dan ittihad atau yang sering dibahasakan dengan istilah wahdatul wujud, yakni kesatuan wujud antara Tuhan dan makhluk-Nya dalam satu dzat. Inilah yang seringkali ditemukan dalam ucapan beberapa pembesar kaum sufi yang telah larut dalam lautan dzikir dan kasyf, sehingga menganggap bahwa bersemayam Tuhanโ€™ dalam dirinya. Keyakinan semacam inilah yang banyak dikritik oleh Ahlussunnah wal Jamaโ€™ah dari mayoritas salaf, Fuqahaโ€™, ahli Kalam, dan ulama sufi zaman awal karena bertentangan dengan akidah umat Islam bahwa Allah dan makhluk-Nya merupakan dua entitas yang berbeda dan tidak mungkin bersatu baik dalam wujud, zat, dan sifat. Akidah wahdatul wujud ini sejalan dengan doktrin Kristen tentang kesatuan Tuhan dengan Yesus dan teologi sebagian sekte Syiah Imamiyah tentang kesatuan Tuhan dengan Ali dan Imam-imam.[vi] Akan tetapi, kita perlu memahami secara cermat tentang beberapa ucapan dan perilaku berbeda sebagian kaum sufi tersebut. Tidaklah patut bagi kita menolak secara total, namun juga tidak menerima secara total pula. Hal ini karena ucapan tidaklah selalu sama dengan keyakinan hatinya. Ibn Khaldun memberikan tips, jika memang perkataan menyimpang tersebut keluar dari figur ulama yang telah diakui keilmuan dan keutamaannya, maka kita mengedepankan husnuzzhan berbaik sangka dan tidak mudah memvonis, seperti kasus Abu Yazid al-Busthami dan sebagainya. Adapun jika hal itu keluar dari orang yang tidak diketahui alim dalam agama, maka boleh memvonisnya jika memang tidak ditemukan penafsiran yang memungkinkan. Hal inilah yang terjadi pada kasus fatwa mati fuqaha dan pembesar sufi terhadap al-Hallaj karena mengatakan Allah hadir dalam dirinya.[vii] Begitu pula fatwa mati Sunan Bonang terhadap Siti Jenar karena ucapan-ucapan yang kental ajaran wahdatul wujud.[viii] Demikianlah ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh para ulama Islam Ahlussunnah wal Jamaโ€™ah. Dalam perjalanannya, ulama-ulama Ahlussunnah wal Jamaโ€™ah generasi akhir mempertahankan penulisan karya-karya tentang ajaran tasawuf meneruskan para ulama pendahulunya, seperti al-Mawahibi yang menulis Ihkam al-Hikam dan Dr. Said Ramadlan al-Buthi yang menulis Syarh wa Tahlil tentang penjelasan kitab al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari, Zainuddin al-Malibari yang menulis Irsyad al-Ibad, dan sebagainya. Di Indonesia, banyak sekali ulama yang menulis kitab tentang tasawuf. Diantaranya adalah Hamzah Fansuri dalam al-Rubaโ€™iyyat, Syaikh Ihsan Jampes dalam Siraj al-Thalibin penjelasan kitab Minhaj al-Thalibin karya al-Ghazali, Syaikh Soleh Darat penulis Syarh al-Hikam karya Ibn Athaillah al-Sakandari, dan sebagainya. Kitab-kitab tasawuf karya ulama generasi akhir baik dalam maupun luar negeri ini banyak dikaji di pesantren-pesantren, selain pembelajaran kitab-kitab tasawuf karya ulama klasik seperti Ihya Ulum al-Din dan Minhaj al-Abidin karya al-Ghazali, al-Risalah al-Qusyairiyyah karya al-Qusyairi juga tetap dipertahankan. [i] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf Jakarta Rajawali Pers, 2010, hlm. 179. [ii] Dr. Ali Jumah, Terjemah al-Bayan li Ma Yasyghalu al-Adzhan Sarang Toko Kitab Al-Anwar 1, hlm. 298-299. [iii] Ibn Khaldun, Muqaddimah Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 381. [iv] Muqaddimah Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 382. [v] Muqaddimah Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 383. [vi] Muqaddimah Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 385. [vii] Muqaddimah Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hlm. 389. [viii] Syaikh Abul Fadhal Senori, Ahlal Musamarah fi Hikayah al-Auliya al-Asyrah, hlm. 44. Tasawuf mempunyai perkembangan tersendiri dalam sejarahnya. Tasawuf berasal dari gerakan zuhud yang selanjutnya berkembang menjadi tasawuf. Meskipun tidak persis dan pasti, corak tasawuf dapat dilihat dengan batasan- batasan waktu dalam rentang sejarah sebagai berikut A. ABAD PERTAMA DAN KEDUA HIJRIYAH Fase abad pertama dan kedua Hijriyah belum bisa sepenuhnya disebut sebagai fase tasawuf tapi lebih tepat disebut sebagai fase kezuhudan. Adapun ciri tasawuf pada fase ini adalah sebagai berikut 1. Bercorak praktis amaliyah Tasawuf pada fase ini lebih bersifat amaliah dari pada bersifat pemikiran. Bentuk amaliah itu seperti memperbanyak ibadah, menyedikitkan makan minum, menyedikitkan tidur dan lain sebagainya. Amaliah ini menjadi lebih intensif terutama pasca terbunuhnya sahabat Utsman. Para sahabat Nabi digambarkan oleh Allah sebagai orang yang ahli rukuk dan sujud, ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏูŒ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูŽุนูŽู‡ู ุฃูŽุดูุฏู‘ูŽุงุกู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูƒููู‘ูŽุงุฑู ุฑูุญูŽู…ูŽุงุกู ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’ ุชูŽุฑูŽุงู‡ูู…ู’ ุฑููƒู‘ูŽุนุงู‹ ุณูุฌู‘ูŽุฏุงู‹ ูŠูŽุจู’ุชูŽุบููˆู†ูŽ ููŽุถู’ู„ุงู‹ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูุถู’ูˆูŽุงู†ุงู‹ ุณููŠู…ูŽุงู‡ูู…ู’ ูููŠ ูˆูุฌููˆู‡ูู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุซูŽุฑู ุงู„ุณู‘ูุฌููˆุฏู ุฐูŽู„ููƒูŽ ู…ูŽุซูŽู„ูู‡ูู…ู’ ูููŠ ุงู„ุชู‘ูŽูˆู’ุฑูŽุงุฉู ูˆูŽู…ูŽุซูŽู„ูู‡ูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ุฃูู†ู’ุฌููŠู„ู ูƒูŽุฒูŽุฑู’ุนู ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽ ุดูŽุทู’ุฃูŽู‡ู ููŽุขุฒูŽุฑูŽู‡ู ููŽุงุณู’ุชูŽุบู’ู„ูŽุธูŽ ููŽุงุณู’ุชูŽูˆูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณููˆู‚ูู‡ู ูŠูุนู’ุฌูุจู ุงู„ุฒู‘ูุฑู‘ูŽุงุนูŽ ู„ููŠูŽุบููŠุธูŽ ุจูู‡ูู…ู ุงู„ู’ูƒููู‘ูŽุงุฑูŽ ูˆูŽุนูŽุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุนูŽู…ูู„ููˆุง ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญูŽุงุชู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู…ูŽุบู’ููุฑูŽุฉู‹ ูˆูŽุฃูŽุฌู’ุฑุงู‹ ุนูŽุธููŠู…ุงู‹ 29 Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuโ€™ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan kekuatan orang-orang mukmin. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. al-Fath 29 Menurut Abd al-Hakim Hassan, abad pertama hijriyah terdapat dua corak kehidupan spiritual. Pertama, kehidupan spiritual sebelum terbunuhnya Utsman dan kedua, kehidupan spiritual pasca terbunuhnya Utsman. Kehidupan spiritual yang pertama adalah Islam murni, sementara yang kedua adalah produk persentuhan dengan lingkungan, akan tetapi secara prinsipil masih tetap bersandar pada dasar kehidupan spiritual Islam pertama. Peristiwa terbunuhnya khalifah Utsman merupakan pukulan tersendiri terhadap perasaan kaum muslimin. Betapa tidak, Utsman adalah termasuk kelompok pertama orang-orang yang memeluk Islam al- Sabiqun al-Awwalun , salah seorang yang dijanjikan masuk surga, orang yang dengan gigih mengorbankan hartanya untuk perjuangan Islam dan orang yang mengawini dua putri Nabi. Peristiwa Utsman mendorong munculnya kelompok yang tidak ingin terlibat dalam pertikaian politik memilih tinggal di rumah untuk menghindari fitnah serta konsentrasi untuk beribadah. Sehingga al-Jakhid salah seorang yang berkonsentrasi dalam ibadah yang juga salah seorang santri Ibn Masโ€™ud berkata, โ€œAku bersyukur kepada Allah sebab aku tidak terlibat dalam pembunuhan Utsman dan aku shalat sebanyak seratus rakaat dan ketika terjadi perang Jamal dan Shiffin aku bersyukur kepada Allah dan aku menambahi shalat dua ratus rakaat demikian juga aku menambahi masing-masing seratus rakaat ketika aku tidak ikut hadir dalam peristiwa Nahrawan dan fitnah Ibn Zubairโ€. 2. Bercorak kezuhudan Tasawuf pada pase pertama dan kedua hijriyah lebih tepat disebut sebagai kezuhudan. Kesederhanaan kehidupan Nabi diklaim sebagai panutan jalan para zahid. Banyak ucapan dan tindakan Nabi s.. yang mencerminkan kehidupan zuhud dan kesederhanaan baik dari segi pakaian maupun makanan, meskipun sebenarnya makanan yang enak dan pakaian yang bagus dapat dipenuhi. Dan secara logikapun tidak masuk akal seandaikata Nabi s.. yang menganjurkan untuk hidup zuhud sementara dirinya sendiri tidak melakukannya. Kezuhudan para sahabat Nabi digambarkan oleh Hasan al-Bashri salah seorang tokoh zuhud pada abad kedua Hijriyah sebagai berikut, โ€Aku pernah menjumpai suatu kaum sahabat Nabi yang lebih zuhud terhadap barang yang halal dari pada zuhud kamu terhadap barang yang haramโ€. Pada masa ini, juga terdapat fenomena kezuhudan yang cukup menonjol yang dilakukan oleh sekelompok sahabat Rasul yang di sebut dengan ahl al- Shuffah. Mereka tinggal di emperan masjid Nabawi di Madinah. Nabi sendiri sangat menyayangi mereka dan bergaul bersama mereka. Pekerjaan mereka hanya jihad dan tekun beribadah di masjid, seperti belajar, memahami dan membaca al-Qur`an, berdzikir, berdoa dan lain sebagainya. Allah sendiri juga memerintahkan Nabi untuk bergaul bersama mereka, ูˆูŽู„ุง ุชูŽุทู’ุฑูุฏู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ู’ุบูŽุฏูŽุงุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุดููŠู‘ู ูŠูุฑููŠุฏููˆู†ูŽ ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ู…ูู†ู’ ุญูุณูŽุงุจูู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุดูŽูŠู’ุกู ูˆูŽู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ุญูุณูŽุงุจููƒูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุดูŽูŠู’ุกู ููŽุชูŽุทู’ุฑูุฏูŽู‡ูู…ู’ ููŽุชูŽูƒููˆู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุธู‘ูŽุงู„ูู…ููŠู†ูŽ 52 Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu berhak mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim. al-Anโ€™am 52 Kelompok ini dikemudian hari dijadikan sebagai tipe dan panutan para shufi. Dengan anggapan mereka adalah para sahabat Rasul dan kehidupan mereka adalah corak Islam. Di antara mereka adalah Abu Dzar al-Ghifari yang sering disebut sebagai seorang sosial sejati dan sekaligus sebagai prototip fakir sejati, si miskin yang tidak memiliki apapun tapi sepenuhnya dimiliki Tuhan, menikmati hartaNYA yang abadi, Salman al-Faritsi, seorang tukang cukur yang dibawa ke keluarga Nabi dan menjadi contoh adopsi rohani dan pembaiatan mistik yang kerohaniannya kemudian dianggap sebagai unsur menentukan dalam sejarah tasawuf Parsi dan dalam pemikiran Syiah, , Abu Hurairah, salah seorang perawi Hadits yang sangat terkenal adalah ketua kelompok ini, Muadz Ibn Jabal, Abd Allah Ibn Masโ€™ud, Abd Allah ibn umar, Khudzaifah ibn al-Yaman, Anas ibn Malik, Bilal ibn Rabah, Ammar ibn Yasar, Shuhaib al-Rumy, Ibn Ummu Maktum dan Khibab ibn al-Arut. Menurut Abd al-Hakim Hassan corak kehidupan spiritual Ahl al-Shuffah sebenarnya bukan karena dorongan ajaran Islam, akan tetapi corak itu didorong oleh keadaan ekonomi yang kurang menguntungkan, sehingga mereka tinggal di masjid. Keadaan itu nampak dari anjuran Rasul Allah kepada sebagian sahabat yang berkecukupan agar memberikan makan kepada mereka. Dan mereka para sahabat yang secara ekonomi berkecukupan dan tidak melakukan sebagaimana ahl al-Shuffah pun juga menjadi panutan bagi orang-orang bijak. 3. Kezuhudan didorong rasa khauf Khauf sebagai rasa takut akan siksaan Allah sangat menguasai sahabat Nabi dan orang โ€“ orang shalih pada abad pertama dan kedua Hijriyah. Informasi al-Qur`an dan Nabi tentang keadaan kehidupan akhirat benar-benar diyakini dan mempengaruhi perasaan dan pikiran mereka. Rasa khauf menjadi semakin intensif terutama pada pemerintahan Umayah pasca jaman kekhilafahan yang empat. Pada masa pemerintahan Umayah, khauf tidak hanya sebatas sebagai rasa takut terhadap kedasyatan dan kengerian tentang kehidupan diakhirat akan tetapi khauf juga berarti kekhawatiran yang mendalam apakah pengabdian kepada Allah bakal diterima atau tidak. Pada masa ini pula, khauf menjadi sebuah pendekatan untuk mengajak orang lain pada kebenaran dan kebaikan. Pendekatan indzar menakut-nakuti lebih dominan dari pada pendekatan tabsyir memberi kabar gembira . Semangat kelompok keagamaan pada masa ini adalah penyebaran rasa takut kepada Allah, kritik terhadap kehidupan yang melenceng jauh dari nilai-nilai keagamaan pada masa Nabi dan dua khalifah sesudahnya dan memperbanyak ibadah. Tokoh utama keagamaan pada masa ini adalah Hasan al-Bashri. Bahkan para asketis โ€“ yang nantinya disebut sebagai para shufi โ€“ mengidentikkan pemerintah dengan kejahatan. 4. Sikap zuhud dan rasa khauf berakar dari nash dalil Agama Al-Qur`an dan al-Hadits memberikan informasi tentang kebenaran sejati hidup dan kehidupan. Keduanya memberikan gambaran tentang perbandingan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Keduanya memberikan informasi tentang kengerian kehidupan akhirat bagi orang-orang yang mengabaikan huum-hukum Allah. Selanjutnya orang โ€“ orang mukmin benar-benar meyakini informasi itu. Dan keyakinan itu melahirkan rasa khauf. Rasa khauf selanjutnya memunculkan sikap zuhud yaitu sikap menilai rendah terhadap dunia dan menilai tinggi terhadap akhirat. Dunia dijadikan sebagai alat dan lahan mazraah untuk mencapai kebahagian abadi dan sejati yaitu akhirat. 5. Sikap zuhud untuk meningkatkan moral Cinta dunia telah membuat saling bunuh dan saling fitnah antar sesama. Cinta dunia melahirkan ketidaksalehan ritual, personal maupun sosial. Itulah sebabnya Hasan al-Bashri sebagai salah seorang zahid dalam mengajak baik masyarakat maupun pemerintah para pemimpin kerajaan Umayah selalu mengajak untuk bersikap zuhud sebagaimana sikap ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sahabat Nabi yang setia. 6. Sikap zuhud didukung kondisi sosial-politik Meski sikap zuhud tanpa adanya keadan sosial politik tertentu masih tetap eksis lantaran al-Qur`an dan perilaku serta perkataan Nabi s.. mendorong untuk bersikap zuhud, namun keadaan sosial politik yang kacau turut menyuburkan tumbuhnya sikap zuhud. Selama abad pertama dan kedua hijriyah terutama setelah sepeninggal Rasul terdapat dua sistem pemerintahan , yaitu sistem pemerintahan kekhalifahan khilafah nubuwah dan sistem pemerintahan kerajaan mulk .Pemerintahan pertama berlangsung selama tiga puluh tahun sesudah Nabi Muhammad yaitu sejak permulaan kekhalifahan Abu Bakar hingga Ali bin Abi thalib tepatnya dari tahun 11 H/ 632 M. sampai dengan tahun 40 H./661 H. Mereka adalah para pengganti Nabi yang berpetunjuk al-khulafa` al-Rasidun . Sistem pemerintahan yang pertama ini mekanisme penggantiannya melalui pemilihan. Pemerintahan kedua sejak pemerintahan dinasti Umayyah tepatnya sejak tahun 41 H./661 M. Dan pemerintahan kedua ini mekanisme pengangkatan pemimpin tertinggi melalui petunjuk atau wasiat penguasa berdasarkan pertalian darah. Pemerintahan kekhalifahan, dalam pandangan banyak orang muslim, suatu bentuk kesalihan dan rasa tanggungjawab yang sangat dalam, sedangkan dinasti umayyah pada umumnya hanya tertarik pada kekuasaan itu sendiri. Kecaman yang sering ditujukan pada dinasti Umayyah adalah dinasti ini tidak menerapkan kebijakan untuk membuat asas Islam sebagai dasar bagi keputusan โ€“ keputusan administratif, oleh karenanya dinasti Umayyah lebih menomorsatukan politik dan menomorduakan agama. Mereka pada umumnya dianggapmenghamba duniawi dan kurang beriman. Menurut Abd al-Hakim Hassan, abad pertama hijriyah terdapat dua corak kehidupan spiritual. Pertama, kehidupan spiritual sebelum terbunuhnya Utsman dan kedua, kehidupan spiritual pasca terbunuhnya Utsman. Kehidupan spiritual yang pertama adalah Islam murni, sementara yang kedua adalah produk persentuhan dengan lingkungan, akan tetapi secara prinsipil masih tetap bersandar pada dasar kehidupan spiritual Islam pertama. a. Fase Sebelum Terbunuhnya Khalifah Utsman Kehidupan spititual Islam sebelum terbunuhnya Utsman terhitung sejak masa Rasul dan masa dua khalรฎfah sesudahnya yaitu khalรฎfah Abu Bakar dan Umar. Kehidupan spiritual pada masa ini termasuk Islam murni. Ciri utamanya adalah amal untuk merealisasikan dua kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebagian besar sahabat Rasul tidak mengalahkan akhirat untuk dunia atau sebaliknya. Pada masa ini, terdapat fenomena kehidupan spiritual yang cukup menonjol yang dilakukan oleh sekelompok sahabat Rasul yang di sebut dengan ahl al- Shuffah. Mereka tinggal di emperan masjid nabawi di Madinah. Nabi sendiri sangat menyayangi mereka dan bergaul bersama mereka. Pekerjaan mereka hanya jihad dan tekun beribadah di masjid seperti belajar, memahami dan membaca al-Qur`an, berdzikir, berdoa dan lain sebagainya. Kelompok ini dikemudian hari dijadikan sebagai tipe dan panutan para shufi. Dengan anggapan mereka adalah para sahabat Rasul dan kehidupan mereka adalah corak Islam. Di antara mereka adalah Abu Dzar al-Ghifari yang sering disebut sebagai seorang sosial sejati dan sekaligus sebagai prototip fakir sejati, si miskin yang tidak memiliki apapun tapi sepenuhnya dimiliki Tuhan, menikmati hartaNYA yang abadi, Salman al-Fartsi, seorang tukang cukur yang dibawa ke keluarga Nabi dan menjadi contoh adopsi rohani dan pembaiatan mistik yang kerohaniannya kemudian dianggap sebagai unsur menentukan dalam sejarah tasawuf Parsi dan dalam pemikiran Syiah, , Abu Hurairah, salah seorang perawi hadits yang sangat terkenal adalah ketua kelompok ini, Muadz Ibn Jabal, Abd Allah Ibn Masโ€™ud, Abd Allah ibn umar, Khudzaifah ibn al-Yaman, Anas ibn Malik, Bilal ibn Rabah, Ammar ibn Yasar, Shuhaib al-Rumy, Ibn Ummu Maktum dan Khibab ibn al-Arut. Menurut Abd al-Hakim Hassan corak kehidupan spiritual Ahl al-Shuffah sebenarnya bukan karena dorongan ajaran Islam, akan tetapi corak itu didorong oleh keadaan ekonomi yang kurang menguntungkan, sehingga mereka tinggal di masjid. Keadaan itu nampak dari anjuran Rasul Allah kepada sebagian sahabat yang berkecukupan agar memberikan makan kepada mereka. Dan mereka para sahabat yang secara ekonomi berkecukupan dan tidak melakukan sebagaimana ahl al-Shuffah pun juga menjadi panutan bagi orang-orang bijak. Kesederhanaan kehidupan Nabi juga diklaim sebagai panutan jalan para shufi. Banyak ucapan dan tindakan Rasul yang mencerminkan kehidupan zuhud dan kesederhanaan baik dari segi pakaian ataupun makanan, meskipun makanan yang enak dan pakaian yang bagus dapat dipenuhi. Hal itu berlangsung hingga ahir hayat Rasul Allah. Dan secara logikapun tidak masuk akal seandaikata Rasul yang menganjurkan untuk hidup zuhud dan sederhana sementara dirinya sendiri tidak melakukannya b. Fase Pasca Terbunuhnya Khalifah Utsman Pasca terbunuhnya khalifah Utsman, kehidupan spiritual mengalami perubahan dibandingkan dengan masa sebelumnya. Peristiwa terbunuhnya khalifah Utsman merupakan pukulan tersendiri terhadap perasaan kaum muslimin. Betapa tidak, Utsman adalah termasuk kelompok pertama orang-orang yang memeluk Islam al- Sabiqin al-Awwalin , salah seorang yang dijanjikan masuk surga, dan orang yang mengawini dua putri Nabi. Peristiwa Utsman mendorong munculnya kelompok yang tidak ingin terlibat dalam pertikaian politik memilih tinggal di rumah untuk menghindari fitnah serta konsentrasi untuk beribadah. Sehingga al-Jakhid salah seorang yang berkonsentrasi dalam ibadah yang juga salah seorang santri Ibn Masโ€™ud berkata, โ€œAku bersyukur kepada Allah sebab aku tidak terlibat dalam pembunuhan Utsman dan aku shalat sebanyak seratus rakaat dan ketika terjadi perang Jamal dan Shiffin aku bersyukur kepada Allah dan aku menambahi shalat dua ratus rakaat demikian juga aku menambahi masing-masing seratus rakaat ketika aku tidak ikut hadir dalam peristiwa Nahrawan dan fitnah Ibn Zubairโ€. Dengan demikian pada masa ini mempunyai corak baru dalam kehidupan keagamaan kaum muslimin. Fenomena keagamaan itu ditandai dengan munculnya para juru cerita al-Qashshas baik di masjid-masjid ataupun di tempat khalayak ramai dan para qurra` yaitu mereka yamg membaca al-Qur,an dengan menangis. Markas utama para qurra itu ada di Bashra. 2. Fase Abad Kedua Hijriyah Kehidupan spiritual pada fase ini mempunyai ciri tersendiri. Konsep zuhud yang semula berpaling dari kesenangan dan kemewahan dunia berubah menjadi pembersihan jiwa, pensucian hati dan pemurnian kepada Allah. Latihan-latihan diri al-riyรขdlah sangat menonjol pada fase ini seperti menyepi khalwah , bepergian siyรขhah , puasa al-shwm dan menyedikitkan makan qillah al-thaโ€™รขm bahkan sebagaian mereka tinggal di gua-gua. Menurut Ibn Khaldun, orang yang mengkonsentrasikan beribadah pada fase ini mendapatkan julukan al-Shufiyah atau al-Mutashawwifah. Tema sentral zuhud pada fase ini adalah tawakal dan ridlรข. Konsep tawakal dan ridlรข yang terdapat dalam al-Qur`รขn itu yang oleh para asketis sebelumnya dalam arti etis berubah menjadi madzhab yang sangat ektrim. Itulah pada fase ini banyak kalangan asketis zรขhid melakukan perjalanan masuk ke hutan dengan bertawakal tanpa bekal apapun dan mereka rela terhadap karunia apa saja yang mereka terima. Tokoh terkenal madzhab tawakal adalah Ibrahim bin Adham w. 161 H. / 790 M. . Ia meninggalkan kehidupan kebangsawanan di Balkh ibu kota kaum Budish tempat ia dilahirkan. Perkembangan doktrin tawakal ini pada perkembangannya mengarah kepada konsep sentral shufi tentang hubungan manusia dan Tuhan, konsep ganda tentang cinta dan rahmat melebur dalam suatu perasaan. Nampaknya Kehidupan spiritual pada fase ini terpengaruh oleh pengaruh-pengaruh luar. Cerita Malik ibn Dinar banyak diriwayatkan dari al-Masih, Taurat dan pendeta. Kehidupan Ibrรขhim ibn Adham menyerupai kehidupan Sidarta Gautama, seorang peletak agama Budha. Adalah hal biasa seorang abid kontak dengan para pendeta rรขhib . Mereka saling tukar pengalaman mengenai kebijaksanaan al-hikmah, wisdom dan cara-cara mujahadah. Itulah sebabnya fase abad kedua hijriyah ini terutama pasca Hasan al- Bashri dapat disebut sebagai fase transisi dari zuhud, yang puncaknya pada Hasan al-Bashri menuju tasawuf yang dimulai sejak Rรขbiah al-Adawiyah. Fase ini juga kadang disebut dengan fase kelompok para penangis al โ€“ Bukkรขโ€™un . 3. Fase Abad III dan IV Hijriyah Apabila abad pertama dan kedua Hijriyyah disebut fase asketisisme kezuhudan , maka abad ketiga dan keempat disebut sebagai fase tasawuf. Praktisi kerohanian yang pada masa sebelumnya digelari dengan berbagai sebutan seperti zahid, abid, nasik, qari` dan sebagainya, pada permulaan abad ketiga hijriyah mendapat sebutan shufi. Hal itu dikarenakan tujuan utama kegiatan ruhani mereka tidak semata โ€“ mata kebahagian akhirat yang ditandai dengan pencapaian pahala dan penghindaran siksa, akan tetapi untuk menikmati hubungan langsung dengan Tuhan yang didasari dengan cinta. Cinta Tuhan membawa konsekuensi pada kondisi tenggelam dan mabuk kedalam yang dicintai fana fi al-mahbub . Kondisi ini tentu akan mendorong ke persatuan dengan yang dicintai al-ittihad . Di sini telah terjadi perbedaan tujuan ibadah orang-orang syariat dan ahli hakikat. Pada fase ini muncul istilah fana`, ittihad dan hulul. Fana adalah suatu kondisi dimana seorang shufi kehilangan kesadaran terhadap hal-hal fisik al-hissiyat. Ittihad adalah kondisi dimana seorang shufi merasa bersatu dengan Allah sehingga masing-masing bisa memanggil dengan kata aku ana . Hulul adalah masuknya Allah kedalam tubuh manusia yang dipilih. Di antara tokoh pada fase ini adalah Abu yazid al-Busthami H. dengan konsep ittihadnya, Abu al-Mughits al-Husain Abu Manshur al-Hallaj 244 โ€“ 309 H. yang lebih dikenal dengan al-Hallaj dengan ajaran hululnya. al-Hallaj dilahirkan di Persia dan dewasa di Iraq Tengah. Dia meghadapi empat tuduhan yang ahirnya membawanya dieksekusi di tiang salib. Empat tuduhan yang dituduhkan kepadanya adalah, 1. Hubungannya dengan kelompok al-Qaramithah 2. Ucapannya โ€ ุฃู†ุง ุงู„ุญู‚ู‘ saya adalah tuhan yang maha benar 3. Keyakinan para pengikutnya tentang ketuhanannya 4. Pendapatnya bahwa menunaikan ibadah haji tidak wajib Tokoh lainnya adalah Dzunnun al-Mishri w. 245 H. yang dikenal dengan pencetus maโ€™rifat. Dia pernah belajar ilmu Kimia dari Jabir bin Hayyan. Dia juga dianggap orang yang berbicara pertama kali tentang maqamat dan ahwal di Mesir., al-Hakim al-Tirmidzi w. 320 H. dengan konsep kewalian, Abu Bakar al-Sibli H. 4. Fase Abad V Hihriyah Fase ini disebut sebagai fase konsolidasi yakni memperkuat tasawuf dengan dasarnya yang asli yaitu al-Qur`an dan al-Hadits atau yang sering disebut dengan tasawuf sunny yakni tasawuf yang sesuai dengan tradisi sunnah Nabi dan para sahabatnya. Fase ini sebenarnya merupakan reaksi terhadap fase sebelumnya dimana tasawuf sudah mulai melenceng dari koridor syariah atau tradisi sunnah Nabi dan sahabatnya. Tokoh tasawuf pada fase ini adalah Abu Hamid al-Ghazali H atau yang lebih dikenal dengan al-Ghzali. Ia dilahirkan di Thus Khurasan. Ia hidup dalam lingkungan pemikiran maupun madzhap yang sangat hitorigen. al-Ghazali dikenal sebagai pemuka madzhab kasyf dalam makrifat. Tentang kesunnian al-Ghazali dikomentari oleh muridnya Abdul Ghafir al-Faritsi,โ€Ahirnya al-Ghazali berkonsentrasi pada hadits Nabi al-Mushthofa dan berkumpul bersama-sama ahli Hadits dan mempelajari kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih al-Muslim Dia menerima tasawuf dari kelompok persia menuju tasawuf suuni. Itulah sebabnya ia banyak menyerang filsafat Yunani dan menunjukkan kelemahan-kelemahan aliran batiniyyah. Di antara buku karangannya adalah Tahafut al-Falasifah, al-Munqidz Min al-Dlalal dan Ihya` Ulum al-Din. Tokoh lainnya adalah Abu al-Qasim Abd al-Karim bin Hawazin Bin Abd al-Malik Bin Thalhah al-Qusyairi atau yang lebih dikenal dengan al-Qusyairi 471 H. , al-Qusyairi menulis al-Risalah al-Qusyairiyah terdiri dari dua jilid. Abad VI Hijriyah Fase ini ditandai dengan munculnya tasawuf falsafi yakni tasawuf yang memadukan antara rasa dzauq dan rasio akal , tasawuf bercampur dengan filsafat terutama filsafat Yunani. Pengalaman โ€“ pengalaman yang diklaim sebagai persatuan antara Tuhan dan hamba kemudian diteorisasikan dalam bentuk pemikiran seperti konsep wahdah al-wujud yakni bahwa wujud yang sebenarnya adalah Allah sedangkan selain Allah hanya gambar yang bisa hilang dan sekedar sangkaan dan khayali. Tokoh โ€“tokoh pada fase ini adalah Muhyiddin Ibn Arabi atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Arabi 560 โ€“ 638 H. dengan konsep wahdah al-Wujudnya. Ibnu Arabi yang dilahirkan pada tahun 560 H. dikenal dengan sebutan as-Syaikh al-Akbar Syekh Besar. Di masa mudanya, ia pernah menjadi sekretaris hakim tingkat wilayah. Sakit keras yang pernah dialami mengubah sikap hidup yang sangat drastis. Dia menjadi seorang zahid dan abid. Dia menghabiskan waktunya di beberapa kota di Andalusia dan di Afrika Utara untuk bertemu para guru shufi. Umur tiga puluh tahun pindah ke Tunis kemudia ke Fas. Disini, Ibnu Arabi menulis buku berjudul al-Isra Ila Maqam al-Asra ุงู„ุฅุณุฑุงุก ุฅู„ู‰ ู…ู‚ุงู… ุงู„ุฃุณุฑู‰ . Kemudian pergi ke Kairo dan al-Quds yang kemudian diteruskan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ibnu Arabi beberapa tahun tinggal di Mekkah dan disinilah ia menyusun kitab Taj al-Rasail ุชุงุฌ ุงู„ุฑุณุงุฆู„ dan Ruh al-Quds ุฑูˆุญ ุงู„ู‚ุฏุณ dan pada tahun 598 H. Mulai menulis kitab yang sangat terkenal al-Futuhat al-Makkiyyah ุงู„ูุชูˆุญุงุช ุงู„ู…ูƒูŠุฉ. Ahirnya Ibnu Arabi tinggal di Damaskus dan menulis kitab Fushush al-Hikam ูุตูˆุต ุงู„ุญููƒูŽู… . Ibnu Arabi meninggal pada tahun 638 H. Tokoh lainnya adalah al-Syuhrawardi 549 โ€“ 587 H. dengan konsep Isyraqiyahnya. Ia dihukum bunuh dengan tuduhan telah melakukan kekufuran dan kezindikan pada masa pemerintahan Shalahuddin al-Ayubi. Diantara kitabnya adalah Hikmat al-Israq. Tokoh berikutnya adalah Ibnu Sabโ€™in 667 H. dan Ibn al-Faridl 632 H. Pada abad VI juga ditandai dengan munculnya tariqat yakni madrasah shufi yang bertujuan membimbing calon shufi menuju pengalaman ilahi melalui teknik dzikir tertentu. Oleh sebagian orang dikatakan bahwa munculnya taiqat adalah untuk membantu orang-orang โ€“awam agar ikut mencicipi tasawuf karena selama ini pengalaman tasawuf hanya dialami oleh orang-orang tertentu saja khawash. Disamping itu kehadiran thariqat juga untuk memagari tasawuf agar senantiasa berada dalam koridor syariat. Itulah sebabnya sistem thariqat sangat ketat.

sejarah perkembangan tasawuf dari abad 1 sampai 10